You are here
Home > Dosen

“Îqâzh al-Ruqûd fî Bahts al-Wujûd”: Puisi Teologi Islam Berbahasa Sunda-Pegon Karangan KH. Abdurrahim Tirmidzi (Majalengka-Purwakarta)

Ini adalah kitab nazham (puisi) berjudul Îqâzh al-Ruqûd fî Bahts al-Wujûd karangan seorang ulama Sunda asal Mirat (Leuwimunding, Majalengka), yaitu KH. Abdurrahim Tirmidzi (w. 1414 H/ 1993 M), yang kemudian bermukim di Cipeundeuy (Cileunca, Purwakarta).

Kitab ini ditulis dalam bahasa Sunda aksara Arab (Sunda-Pegon) dan berisi tentang kajian ilmu tauhid (teologi Islam). Dalam versi lengkapnya, kitab ini berjudul:

نظم ايقاظ الرقود في بحث الوجود المحيط لكمالات الذات الواجب الوجود المنفرد بالخلق والتدبير الذي هو المعبود

“Nazham Îqâzh al-Ruqûd fî Bahts al-Wujûd al-Muhîth li Kamâlât al-Dzât al-Wâjib al-Wujûd al-Munfarid bi al-Khalq wa al-Tadbîr alladzî Huwa al-Ma’bûd” (Puisi Penggugah Kelesuan Jiwa dalam Mengkaji Wujud [Ketuhanan] yang Diliputi oleh Kesempurnaan Dzat yang Wajib Ada-Nya dan yang Tersendiri dengan Penciptaan dan Kekuasaan-Nya yang Senantiasa Disembah [oleh Segenap Makhluk-Nya]).

Kitab ini terdiri dari dua juz. Saya sendiri menapatkan kopian manuskrip kitab ini (juz pertamanya saja) dari cucu pengarang, yaitu Ustadz Amrullah Asy’ari, yang menjadi mahasiswa pascasarjana UNUSIA (Universitas Nahdlatul Ulama) Jakarta tahun angkatan 2017. Juz pertama terdiri dari 944 (rembilan ratus empat puluh empat) bait nazham dalam 65 (enam puluh lima) halaman.

Keterangan KH. Abdurrahim Tirmizdi sebagai nama pengarang kitab nazham “Îqâzh al-Ruqûd” ini terdapat pada halaman sampul, sesudah judul. Tertulis di sana:

نظمه من الرجز أحقر الورى وأضعف من في القرى الفقير الى رحمة ربه البصير الخبير عبد الرحيم بن ترمذي نزيل جلان جكاك جيلنجا من أعمال فورواكرتا

(Dinazhamkan dalam bahr [metrum] “rajaz” oleh seorang makhluk yang paling hina, dan seorang yang paling lemah di kampungnya, seorang yang fakir kepada rahmat Allah yang maha Bashir dan Khabir, yaitu Abdurrahim bin Tirmidzi pendatang di Jalan Cagak, Cileunca, Purwakarta).

Dalam titimangsa, pengarang mengabarkan bahwa juz pertama dari kitab anggitannya ini diselesaikan pada tanggal 7 Rabi’ul Awwal tahun 1398 Hijri, bertepatan dengan 15 Februari tahun 1978 Masehi di Cipeundeuy, Cileunca, Darangdan, Purwakarta.

Lima bait pertama dari kitab ini tertulis sebagai berikut:

أري وجود ايتا عدم للاون نا # آثا ايتا نودي عرانن محال نا
أري عران وجود تيه دينا هرتينا # آثا ايتا الله تيه واجب ايانا
أري عران عدم تيه دينا هرتينا # ايتا هنت ايا جدي سباليك نا
انو هنت كاهرتي موعكوه عقل نا # اوفمنا مون الله هنت ايانا
اري نو ندوه كن كنا يين واجب نا # ايانا الله اينا داملان ننا

(Ari wujud eta ‘adam lalawana # enya eta nu di ngaranan muhalna
Ari ngaran wujud teh dina hartina # enya eta Allah teh wajib ayana
Ari ngaran ‘adam teh dina hartina # eta henteu aya jadi sabalikna
Anu henteu kaharti mungguh akalna # umpama mun Allah henteu ayana
Ari nu nuduhkeun kana yen wajibna # ayana Allah eta damelanana)

Terjemahan bahasa Indonesia dari teks di atas adalah kurang lebih sebagai berikut:

“Adapun wujud adalah ‘adam lawannya # yaitu yang dinamakan muhal
Adapun nama wujud dalam artinya # adalah Allah wajib adanya
Adapun nama ‘adam dalam artinya # adalah tidak ada(nya Allah) jadi sebaliknya
Yang tidak dapat terfahami oleh akal # seperti jika Allah tidak ada
Adapun yang menunjukkan terhadap wajib # adanya Allah adalah ciptaan-Nya”

Biografi pengarang kitab ini, KH. Abdurrahim Tirmidzi, termuat dalam buku berjudul “Biografi Sang Kyai Mastur H. Abdurrahim” yang ditulis oleh Amrullah Asy’ari (diterbitkan oleh Yayasan an-Nur, Sukamanah, Bojong, Purwakarta pada tahun 2014).

Dalam buku tersebut, disebutkan bahwa KH. Abdurrahim Tirmidzi dilahirkan di desa Mirat, kecamatan Leuwimunding, kabupaten Majalengka, sekitar tahun 1930-an. Sejak kecil, ia belajar ilmu-ilmu keislaman dari orang tuanya, lalu belajar di beberapa pesantren di Jawa Barat. Di antara para gurunya adalah KH. Anshor Muthohir Dukuhasih (Leuwimunding), KH. Amin Sepuh Babakan (Ciwaringin, Cirebon), KH. Sanusi Babakan (Ciwaringin, Cirebon), KH. Abdul Fattah Trajaya (Majalengka), KH. Muhyiddin (Pagelaran), KH. Tubagus Bakri Sempur (Purwakarta), dan KH. Abdul Mannan Gadog (Garut).

Di antara guru yang paling berpengaruh adalah KH. Tubagus Bakri Sempur (Purwakarta). Atas titah beliau jugalah KH. Abdurrahim Tirmidzi lalu menetap di Cipeundeuy, Cileunca, Darangdan, Purwakarta dan mendirikan pesantren di sana. Beliau wafat di kampung kelahirannya di Mirat, Leuwimunding, Majalengka, pada hari Rabu, 11 Jumadil Ula tahun 1414 Hijri (27 Oktober 1993 M) dan dikebumikan di Ciparay, Leuwimunding.

KH. Abdurrahim Tirmidzi juga melahirkan banyak karya, yang mayoritas ditulis dalam bahasa Sunda aksara Arab, baik dalam bentuk natsr (prosa) atau pun nazham (puisi). Di antara karya-karya tersebut adalah: Nafahât al-Ridhwân Kitab Pasholatan, al-Risâlah al-Nafîsah fî Bayân al-Najâsah (2 juz), Îqâzh Niyâm al-Thalabah fî al-Durûs al-Sharfiyyah (5 juz), Nazham al-Mathlab fî Adab al-Ta’allum li al-Thullâb, Îqâzh al-Ruqûd fî Bahts al-Wujûd, dan lain-lain.

Sumber: Koleksi Ahmad Ginandjar Sya’ban

Tinggalkan Balasan

Top