You are here
Home > Mahasiswa

Islam Cirebon: Sebuah Manifestasi Islam Bahari

Fakultas Islam Nusantara

Oleh:

Muhammad Syakir Ni’amillah Fiza (180101347)

Toipah (180101350)

Islam masuk ke Indonesia dengan mengakomodasi tradisi dan budaya yang berkembang pada zamannya. Berbagai budaya yang pada mulanya bertentangan dengan ajaran Islam tidak begitu saja dipertentangkan atau bahkan dilarang. Cerdiknya para pendakwah dulu menjadikan hal tersebut sebagai media menyebarkan Islam, yakni dengan memodifikasi bungkus dan mengubah substansinya.

Hal demikian juga terjadi di Kota Cirebon, sebuah kota yang terletak di ujung timur bagian utara Jawa Barat. Kota yang terletak di dekat pantai utara ini tentu saja memiliki tradisi dengan kebahariannya. Dengan empat keraton yang sampai saat ini masih berdiri, berbagai tradisi juga masih terus dilestarikan hingga saat ini.

Di samping itu, Islam yang masuk ke Indonesia juga dengan membawa ajaran sufistik juga membawa pengaruh terhadap corak keislaman masyarakat Cirebon. Salah satu ajarannya melalui jalur tarekat. Cirebon sebagai salah satu pusat peradaban Islam tentu berperan dalam persebaran tarekat ini. Dua di antaranya yang terbesar di Cirebon adalah Tarekat Syattariyah dan Tarekat Tijaniyah yang berkembang belakangan.

Tradisi dan budaya keislaman Cirebon ini semakin kuat ditopang dengan banyak pesantren yang tumbuh di kota tersebut. Pesantren-pesantren itu tidak hanya berpengaruh pada skala lokal, melainkan nasional karena andilnya dalam berbagai persoalan yang melanda negeri, baik sebelum maupun setelah kemerdekaan itu diraih.

  • Sejarah Singkat Kasultanan Cirebon

            Pada tahun 1302 Anno Jawa, di pantai Pulau Jawa (yang kini disebut Cirebon) ada tiga daerah otonom bawahan Kerajaan Pajajaran yang masing-masing dipimpin oleh seorang Mangkubumi, yakni Singapura atau Mertasinga, Pesambangan atau Caruban Larang (Caruban Pesisir dan Caruban Girang), dan Japura. Caruban Larang memiliki pelabuhan yang sudah ramai dan memiliki mercusuar untuk memberi petunjuk tanda berlabuh kepada perahu-perahu layar yang singgah di pelabuhan yang disebut Muara Jati (sekarang Alas Konda). Pelabuhan tersebut ramai disinggahi perahu-perahu dagang dari berbagai Negara, diantaranya dari Arab, Persi, India, Malaka, Tumasik (Singapura), Paseh, Cina, Jawa Timur, Madura, Palembang, Bugis atau Sulawesi, dan lain-lain.[1]

Sejarah berdirinya Cirebon merupakan sebuah rangkaian proses yang sangat panjang. Sejarah panjang ini dimulai dari Kisah Prabu Siliwangi atau Raja Pajajaran yang menikahi Nyi Mas Subang Kranjang atau Nyi Mas Ratu Subang Larang, yakni seorang putri Mangkubumi/ Mertasinga Caruban. Mereka dikaruniai tiga putra bernama Pangeran Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana, Ratu Mas Rarasantang, dan Pangeran Raja Sengana atau Pangeran Kian Santang. Ketiga putra inilah yang menjadi cikal bakal sebagian rakyat Pajajaran memeluk Islam.[2]

Singkat cerita, Pangeran Walangsungsang melakukan pengembaraan pencarian jati diri karena mengalami mimpi, yang kemudian disusul oleh adiknya, Ratu Rarasantang. Di tengah pengembaraannya, Pangeran Walangsungsang bertemu dengan Ki Danusela dan dinikahkan dengan putrinya, Nyimas Endhang Ayu. Pangeran Walangsungsang, Nyimas Endhang Ayu, dan Ratu Rarasantang berguru kepada Syekh Nurjati. Sejak saat itulah terjadi proses babad alas atau dimulai sejarah berdirinya Cirebon.[3]

            Pangeran Walangsungsang, Nyimas Endhang Ayu, dan Ratu Rarasantang membuka pedukuhan di Kebon Pesisir di sebelah selatan Gunung Jati, tepatnya di Lemahwungkuk. Kebon Pesisir terletak di sebelah timur Pesambangan, berbatasan dengan Palimanan. Pada saat itu, tempat tersebut bernama Tegal Alang-alang. Sekarang daerah tersebut bernama Cirebon. Babad alas yang dilakukan oleh Pangeran Walangsungsang ini dijadikan momentum sebagai hari jadi Kota Cirebon, yakni tanggal 1 Syura atau 1 Muharram 1375 Saka (1445 M).[4] Tahun ini dihitung sejak keluarnya Pangeran Walangsungsang beserta adiknya, Nyi Mas Ratu Rarasantang dari istana Pakuan Pajajaran pada tahun 1442 M. Sembilan bulan masa berkelana, dan dua tahun masa berguru kepada Syekh Nurjati di Gunung Amparan Jati.

            Kebon Pesisir semula disebut “Syarumban” yang artinya pusat daari pencampuran penduduk dari berbagai daerah, lalu mengalami proses perubahan pengucapan menjadi “Caruban” yang artinya tetap sama, campuran. Lalu kata ini mengalami proses perubahan pengucapan lagi menjadi “Carbon”, “Cerbon”, “Crebon”, kemudian Cirebon. Menurut naskah Purwaka Caruban Nagari yang disunting oleh Atja, para wali menyebut Carbon sebagai “pusat jagat”, negeri yang dianggap terletak di tengah-tengah Pulau Jawa. Masyarakat setempat menyebutnya “Negara Gede”, yang kemudian diucapkan menjadi Garage, lalu Grage.[5] Penamaan Cirebon yang berarti “air rebon” erat kaitannya dengan pembuatan terasi yang dilakukan oleh Ratu Rarasantang dan Nyi Mas Endhang Ayu.[6]

Pangeran Walangsungsang dan Ratu Rarasantang kemudian diperintahkan oleh gurunya, Syekh Nurjati untuk menyempurnakan rukun Islam kelima, yakni menunaikan ibadah haji. Setelah berhaji, Pangeran Walangsungsang memiliki nama baru, yaitu Haji Abdullah Iman al-Jawi, dan Nyi Mas Ratu Rarasantang bergelar Hajjah Syarifah Mudaim. Syarifah Mudaim kemudian dipersunting oleh Raja Mesir keturunan Bani Hasyim bernama Syarif Abdullah (Sultan Mahmud). Keduanya dianugerahi dua putra yang bernama Syarif Hidayatullah yang lahir pada tahun 1370 Saka (1448 M) dan Syarif Nurullah, yang kemudian akan menggantikan Raja Mesir.[7]

Pada tahun 1479 M, Pangeran Cakrabuana sebagai Mbah Kuwu Cirebon II (sebagai penerus Mbah Kuwu Cirebon I yakni Ki Danusela atau Ki Gedheng Alang-alang) dan sebagai pemegang kuasa di Keraton Pakungwati menyerahkan kekuasaannya kepada keponakannya, Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati yang merupakan putra dari adiknya, Syarifah Mudaim dan suaminya, Sultan Mesir, seorang keturunan ke-21 dari Nabi Muhammad saw.

Setelah Prabu Siliwangi wafat pada tahun 1482 M, tahta Kerajaan Pajajaran jatuh kepada putra mahkota, Pangeran Cakrabuana atau Pangeran Walangsungsang. Pangeran Cakrabuana menyerahkan tahta kerajaan tersebut kepada Syekh Syarif Hidayatullah juga. Sejak tahta kekuasaan Pangeran Cakrabuana dialihkan kepada Syekh Syarif Hidayatullah, sejak tahun itu pula ia menghentikan upeti kepada Kerajaan Pajajaran. Sejak inilah Cirebon menjadi Negara merdeka yang bercorak Islam. Kedaulatan Kesultanan Cirebon yang bercorak Islam tersebut merata ke segenap bekas wilayah Pajajaran. Dengan kata lain, “Pajajaran adalah awal Cirebon dan Cirebon adalah akhir dari Pajajaran”.[8]

  • Budaya (di) Cirebon

Cirebon pada masa sebelum merdeka merupakan teritori Kerajaan Galuh Sunda Pakuan, namun Cirebon tidak serta merta persis seperti wilayah induknya. Cirebon menjadi sebuah area terbuka. Wilayah yang mudah menerima nilai-nilai baru, sehingga tercipta sebuah komunitas yang heterogen pada semua sisi kehidupannya. Hal tersebut tidak terlepas dari sifat khas masyarakat pesisir yang luwes, lentur, dan akomodatif.[9] Begitu pun dalam segi bahasa. Pada tataran resmi, sabda praja menggunakan bahasa Sunda Kuno. Sementara pada tataran masyarakat umum, sangat memungkinkan apabila digunakan lebih dari dua bahasa karena keberadaan Cirebon sebagai perlintasan dan tujuan berbagai bangsa.[10]

Dalam sebuah babad, diriwayatkan bahwa Sunan Gunung Jati merupakan ahli bahasa. Ia menguasai tak kurang dari 99 bahasa. Hal tersebut mungkin karena keragaman bahasa di Cirebon saat itu. Hal tersebut mungkin saja terjadi karena Cirebon merupakan pelabuhan yang sangat ramai dan tujuan berbagai bangsa, sehingga timbul berbagai bahasa pula di Cirebon.[11]

Berdirinya Cirebon sebagai kerajaan mandiri dan berdaulat pada tahun 1482 M., membawa warna baru dalam berbagai hal. Secara politis, tercipta pemerintahan baru, sementara secara sosial-budaya, menciptakan warna baru pada segi keagamaan, seni, bahasa, dan aspek lainnya. Kerajaan Cirebon menetapkan bahasa Jawa kuno sebagai bahasa resmi kerajaan Cirebon, termasuk Banten. Demikian instansi resmi di bawah Kerajaan Cirebon secara struktural, juga lingkungan pendidikan (pengguron dan pesantren), mengikuti menggunakan Bahasa Jawa kuno walaupun ada sebagian masyarakat yang masih tetap menggunakan Bahasa Sunda sebagai sarana berkomunikasi. Masyarakat yang berada di daerah perbatasan umumnya dapat menggunakan Bahasa Sunda dan Bahasa Jawa sama baiknya.[12]

Seiring perubahan politik di Kerajaan Cirebon yang mengalami kemerosotan sepeninggal Sunan Gunung Jati pada tahun 1568, pada saat kepemimpinan dipegang oleh Panembahan Adining Kusuma pada tahun 1649 M., ia ditawan oleh Raja Mataram Amangkurat I di ibu kota Mataram hingga ia wafat dan dimakamkan di Girilaya pada tahun 1667 M. Pada masa itu, hegemoni Mataram dengan segala aturannya yang saklek dan kaku tentu tidak sejalan dengan watak masyarakat pesisir yang terbuka dan luwes. Tatanan pemerintahan mulai disesuaikan dengan Mataram, termasuk dalam pola bahasa. Namun kenyataannya, masyarakat Cirebon tidak menaati aturan bahasa dari Mataram. Bahasa Cirebon justru terbentuk dari sebuah morfosis Jawa kuno yang dipadukan dengan Bahasa Sunda dan bahasa-bahasa lainnya menjadi bahasa yang mandiri dan terbebas dari aturan ala Mataram.[13]

  • Proses Islamisasi (di) Nagari Caruban atau Cirebon

Proses penyebaran Islam di Nusantara tidak seragam. Tingkat penerimaan terhadap Islam berbeda satu daerah dengan daerah lain. Perbedaan tersebut bukan hanya pada waktu pengenalannya, melainkan juga bergantung pada watak budaya lokal daerah tersebut. Daerah-daerah pesisir yang memiliki budaya maritime lebih bersifat terbuka, sehingga Islam masuk dan menyebar dengan lebih mudah. Penduduk pesisir lebih mudah mengadopsi agama yang universal dan abstrak. Lain halnya dengan penduduk pedalaman yang lebih mempertahankan ikatannya dengan penghormatan terhadap arwah leluhur dan dewa-dewa alam untuk keberlangsungan hidup mereka. Keragaman yang terjadi bukan hanya karena faktor geografis saja, melainkan juga karena faktor sosio-kultural, ekonomi, dan politik.[14]

Pedagang-pedagang Islam dari Arab dan Gujarat, serta orang-orang Jawa yang berkedudukan di Malaka membawa ajaran Agama Islam ke kota-kota pelabuhan pantai utara (baca: pantura) Pulau Jawa. Penguasa-penguasa kota pesisir utara Jawa, seperti Cirebon, Demak, Tuban, Jepara, Gresik, dan kemudia Madiun di pedalaman memeluk Islam. Agama Islam menjadi menarik bagi kota-kota di pesisir utara karena dua poin. Pertama, sebagai lambang perlawanan terhadap Majapahit. Kedua, Agama Islam merupakan alternatif terhadap keseluruhan pandangan dunia Hindu. Islam memiliki ajaran kesamaan yang ampuh untuk mencairkan tatanan hirarkis masyarakat Majapahit.[15]

Strategi penyebaran Agama Islam sebenarnya telah lama direncanakan meluas ke Asia, khususnya Asia Tenggara. Setelah Khulafaur Rasyidin dan Wali Khutub Syekh Abdul Qadir al-Jaelani untuk daerah Magrib (barat, yang ada di Baghdad) wafat, maka para wali sanga menghendaki untuk mengangkat kembali seorang Wali Khutub di daerah Masyrik (timur), yakni Sunan Gunung Jati atau Syekh Syarif Hidayatullah yang berkedudukan di Cirebon.[16]

Pulau Jawa menjadi incaran pertama dalam proses islamisasi karena di Jawa terdapat dua kerajaan besar dan kuat yang bercorak Hindu-Budha, yakni Majapahit dan Pajajaran. Kekuasaan kedua kerajaan tersebut hampir meliputi seluruh Nusantara. Beberapa tokoh penyebar Agama Islam menerobos ke Pulau Jawa, misalnya Syekh Qura di Karawang (yang merupakan guru Nyi Mas Subang Kranjang (disebut juga sebagai Nyi Mas Ratu Subang Larang) atau ibu dari Pangeran Walangsungsang), Syekh Nurjati di Gunung Jati, dan Sunan Ampel Dhenta di Surabaya.[17]

Pada tahun 1479 M, beberapa tokoh Islam dari Baghdad, Mekkah, Mesir, dan Syria membentuk Dewan Wali Sanga dalam rangka penyebaran dan perluasan Agama Islam di Pulau Jawa yang dipimpin oleh Sunan Ampel. Setelah Sunan Ampel wafat, Dewan Wali Sanga ini diketuai oleh Sunan Gunung Jati. Pada tahun itu juga, para Wali Sanga memproklamirkan Cirebon sebagai Negara beragama Islam merdeka sebagai basis penyebaran Islam. Tempat persidangan dan tempat untuk mengurus segala hal administratif dilakukan di Masjid Agung Cirebon.[18]

Di bawah kepemimpinan Syekh Syarif Hidayatullah, Cirebon menjadi sebuah Negara yang merdeka dan berdaulat. Keraton Pakungwati menjadi pusat pemerintahan Cirebon saat itu. Caruban Nagari memiliki lambang kenegaraan berupa sebuah bendera kebesaran yang disebut “umbul-umbul Caruban Nagari”. Bendera tersebut merupakan panji yang menjadi atribut Caruban Nagari pada abad ke-16 pada masa pemerintahan Syekh Syarif Hidayatullah yang bergelar Ingkang Sinuhun Kanjeng Susuhunan Jati Purba Panetep Panatagama Aulia Allah Kutubizzaman Khalifatur Rasulullah saw.[19]

Syekh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati  dikenal sebagai tokoh Wali Songo yang menurunkan sultan-sultan Banten dan Cirebon. Strategi dakwah yang dijalankan Sunan Gunung Jati adalah memperkuat kedudukan politisi sekaligus memperluas hubungan dengan tokoh-tokoh berpengaruh di Cirebon, Banten, dan Demak melalui pernikahan. Selain itu, Sunan Gunung Jati menggalang kekuatan dengan menghimpun orang-orang yang dikenal sebagai tokoh yang memiliki kesaktian dan kedigdayaan (tidak terkalahkan).[20]

Kekuatan tokoh-tokoh digdaya yang digalang Sunan Gunung Jati memberikan hasil luar biasa ketika umat Islam di Cirebon diserbu oleh pasukan Raja Galuh dan berakhir dengan kemenangan pasukan dari Cirebon. Kekalahan dan takluknya Raja Galuh membuat dakwah Islam berkembang pesat di bekas wilayah tersebut. Bukan hanya keluarga dan para pejabat tinggi Raja Galuh yang memeluk Islam, pun demikian dengan rakyat di berbagai penjuru negeri Raja Galuh. Tidak lama setelah jatuhnya Raja Galuh, Raja Indramayu yang bernama Arya Wiralodra menyatakan takluk kepada kekuasaan Cirebon. Keberhasilan Sunan Gunung Jati dalam menegakkan kekuasaan Islam di Cirebon dan Banten memberikan keleluasaan dakwah Islam di seluruh pelosok wilayah Pasundan.[21]

  • Tarekat-tarekat di Cirebon
  • Tarekat Syattariyah

Cirebon dikenal sebagai salah satu kota pusat Tarekat Syattariyah. Mahrus El Mawa menyebut Cirebon sebagai melting pot Islam Nusantara.[22] Pasalnya, penyebaran Islam dapat dilihat dari realitas hubungan keraton dan pesantren sebagai dua titik inti.

Sebelumnya, tarekat ini juga sudah kali pertama dianut oleh Sunan Gunung Jati. Hal ini sudah ditulis oleh Martin van Bruinessen dengan mengutip kitab Sajarah Banten Rante-rante dan Babad Cirebon, bahwa lingkungan istana telah mengenal tarekat Syattariyah, Naqsyabandiyah, dan Kubrawiyah melalui seorang atau lebih murid al-Syinnawi atau penggantinya, mungkin orang Indonesia yang menunaikan ibadah haji ataupun orang luar yang datang ke Indonesia.[23]

Lepas dari Sunan Gunung Jati, Tarekat Syattariyah juga menyebar di Cirebon dari Syekh Abdul Muhyi, Pamijahan, sebelum ia menyebarkannya ke Priangan Selatan. Ia merupakan murid dari Syekh Abdul Rauf Singkel, seorang ulama Aceh. Muhaimin AG menulis bahwa Tarekat Syattariyah di Buntet tidak memilki hubungan dengan Syekh Muhyi atau dengan Abdul Rauf Singkel karena Syattariyah masuk ke Buntet melalui sumber yang berbeda.[24] Hal ini perlu diluruskan bahwa sebenarnya pendiri Buntet Pesantren sendiri, yakni Mbah Muqoyim, mengambil Tarekat Syattariyah dari jalur Syekh Abdul Muhyi. Hal ini dibuktikan dengan sebuah manuskrip yang disimpan oleh Raden Raffan Hasyim. Berikut silsilahnya dari Rasulullah saw. hingga ke bawah:

  1. Rasulullah saw.
  2. Sayidina Ali kw.
  3. Sayidina Husein al-Syahid
  4. Sayidina Zainal Abidin
  5. Imam Muhammad Baqir
  6. Imam Ja’far al-Shadiq
  7. Sultan Arifin Abi Yazid al-Busthami
  8. Syekh Muhammad Maghrib
  9. Quthb Abi Mudlaffar Maulana Rumi Thusi
  10. Quthb Abi Hasan al-Hirqani
  11. Syekh Hadaqili Maawara al-Nahari
  12. Sayid Muhammad Asyiq
  13. Syekh Muhammad al-Syathari
  14. Syekh Hidayat Sarmusun
  15. Syekh Hudluri
  16. Syekh Sayid Muhammad Ghauts bin Syekh Khathir al-Din
  17. Sayid Wajhu al-Din Alawiy
  18. Shibghat Allah bin Sayid Ruhu Allah
  19. Sayidina Abi Mawahib Abd Allah Ahmad bin Ali Abbas al-Syinawi
  20. Syekh Ahmad bin Muhammad Madinah (Syekh Qusyasyi)
  21. Syekh Abdul Rauf bin Ali al-Fansuri al-Singkili
  22. Syekh Haj al-Muhyi Safarwadi
  23. Kiai Thalab al-Din (Penghulu Batang)
  24. Kiai Muqoyim Cirebon
  25. Kiai Mas Arifin Tuk
  26. Kiai Haj Syarqawi Majalengka
  27. Kiai Bulqini Cirebon[25]

Namun, memang silsilah tersebut sepertinya terputus hingga Mbah Muqoyim, atau tidak turun ke anak cucunya. Pasalnya, sanad Tarekat Syattariyah, dua cucunya, yakni Kiai Soleh Zamzami yang mendirikan Pondok Pesantren Benda Kerep dan Kiai Abdul Jamil yang meneruskan estafet kepemimpinan Pondok Buntet Pesantren tidak bersambung kepada kakeknya. Muhaimin AG dalam bukunya juga mencatat bahwa Mbah Muqoyim merupakan mursyid Tarekat Syattariyah keraton meskipun tidak merekrut pengikut di Buntet atau setidaknya jika pun dilakukan itu tidak secara terbuka. Walaupun demikian, dalam buku yang dihasilkan dari disertasinya di Universitas Nasional Australia (ANU) itu, Muhaimin tidak menyebutkan sanad tarekat Mbah Muqoyim. 

Adanya sebuah kertas fotokopi yang pernah penulis dapatkan dari Mursyid Tarekat Syattariyah Buntet Pesantren, yakni KH. Ade Nasihul Umam saat sowan pada tahun lalu, menjadi bukti sanad tarekat Kiai Soleh dan Kiai Abdul Jamil tidak bersambung kepada Mbah Muqoyim. Menantu KH Abdullah Abbas itu menemukan kertas tersebut dari sebuah kitab mertuanya, secarik kertas yang berisi pengangkatan KH Mushlih Jepara sebagai mursyid Tarekat Syattariyah. Dalam silsilah tersebut, disebutkan bahwa Kiai Abbas mengambil sanad Tarekat Syattariyah dari ayahnya, yakni Kiai Abdul Jamil. Lalu, Kiai Abdul Jamil dibaiat oleh kakaknya, yakni Kiai Soleh Zamzami. Kiai Soleh dibaiat Kiai Anwaruddin Kriyani. Berikut selengkapnya.[26]

  1. Kiai Abbas
  2. Kiai Abdul Jamil
  3. Kiai Soleh Zamzami
  4. Mbah Kriyan
  5. Kiai Asy’ari Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah
  6. Syekh Muhammad
  7. Sayid Madani
  8. Sayid Ibrahim Thahir
  9. Syekh Mulla Ibrahim
  10. Syekh Ahmad Qusyasyi
  11. Syekh Syinawi
  12. Sayid Shibghat Allah
  13. Sayid Wajih al-Din
  14. Sayid Ghauts
  15. Syekh Hadlari
  16. Syekh Hadiyatullah dan seterusnya sampai Syekh Abu Yazid al-Busthami terus hingga Rasulullah saw.

Ayah Kiai Soleh dan Kiai Abdul Jamil, yakni Kiai Mutaad, juga merupakan salah satu penganut Tarekat Syattariyah meskipun penulis belum mengetahui sanadnya dari mana. Akan tetapi, Kiai Mutaad adalah salah seorang pasukan Diponegoro saat Perang Jawa 1825-1830 M. Keterlibatan Buntet Pesantren melalui Kiai Mutaad itu ditandai dengan adanya pohon sawo di dekat Masjid Agung Buntet Pesantren sebagai tanda bahwa terdapat seorang pasukan Pangeran Diponegoro di daerah tersebut. Sebagaimana yang kita ketahui bersama, bahwa Pangeran Diponegoro juga merupakan pengamal Tarekat Syattariyah mengikuti nenek buyutnya, yakni Ratu Ageng, sebagaimana disampaikan Prof Oman Fathurahman berdasarkan penelitian terhadap naskah Jav. 69 (Silsilah Syattariyah) dari koleksi Colin Mackenzie di Perpustakaan British (British Library), London, Inggris.[27]

  • Tarekat Tijaniyah

Selain Tarekat Syattariyah, Cirebon juga menjadi pusat penyebaran Tarekat Tijaniyah ke seluruh penjuru Nusantara. Hal ini juga pernah diungkapkan oleh Martin van Bruinessen dalam bukunya yang sama, bahwa kota di ujung timur pesisir utara Jawa Barat itu bersama Garut dan Madura menjadi pusat peredaran tarekat yang banyak ditentang oleh tarekat-tarekat lainnya itu.[28] Pasalnya, ada beberapa persoalan yang membuat para pengamal tarekat lain tidak terima. Setidaknya, Martin menulis tiga problematika yang membuat tarekat Tijaniyah ini tidak disenangi oleh penganut tarekat lainnya.[29]

  1. Para pengikut tarekat Tijaniyah akan diberlakukan secara khusus pada hari kiamat (atau lebih eksplisit, bahwa mereka dan keturunannya sampai tujuh generasi dijamin akan masuk surga)
  2. Pahala yang diperoleh dari membaca shalawat al-Fatih, doa tarekat Tijaniyah, sama dengan membaca seluruh Al-Quran sebanyak ribuan kali
  3. Pengikut tarekat Tijaniyah diminta untuk melepaskan afiliasinya dengan para guru (tarekat) lainnya

Bahkan, persoalan ini sampai dibawa ke forum bahtsul masail Muktamar keenam Nahdlatul Ulama yang digelar di Cirebon, Jawa Barat. Isu ini begitu santer mengingat guru utama, bahkan penyebar pertama tarekat ini adalah Kiai Anas Abdul Jamil, adik Kiai Abbas Abdul Jamil, dari Buntet Pesantren. Dua kutub ulama yang sama-sama berpengaruh di NU itu pada muktamar tersebut saling adu pendapat. Martin mencatat bahwa solusi atas problematika itu diplomatis, yakni amalan-amalan tarekat Tijaniyah termasuk mu’tabārah, namun tidak memberikan pernyataan tentang klaim-klaim ekstrem dari tarekat tersebut.[30]

Tarekat ini kali pertama dibawa oleh Kiai Anas Abdul Jamil Buntet Pesantren atas perintah kakaknya, yakni Kiai Abbas Abdul Jamil. Kiai Anas dibaiat oleh Syekh Alfa Hasyim saat menunaikan ibadah haji pada tahun 1924, sebelum kemudian dibaiat lagi oleh Syekh Ali al-Thayib pada tahun 1937 ketika berkunjung ke Indonesia.[31]

Kiai Anas pun menyebarkan tarekat ini kepada masyarakat Buntet Pesantren. Guna meluaskan ajaran tarekat tersebut, Kiai Anas mengangkat beberapa muqaddam, yakni Kiai Hawi (Buntet), Kiai Murtadla (Buntet), Kiai Shaleh (Buntet), Kiai Muhammad (Brebes), Kiai Bakri Kasepuhan Cirebon, Kiai Muhammad Rais (Cirebon), dan Kiai Abdul Qadiru Khoir.

  • Manifestasi Islam Cirebon
  • Nadran

Nadran adalah upacara adat para nelayan di pesisir pantai utara Jawa, seperti Subang, Indramayu, dan Cirebon yang bertujuan untuk mensyukuri hasil tangkapan ikan, mengharap peningkatan hasil pada tahun mendatang dna berdoa agar tidak emndapat aral melintang dalam mencari nafkah di laut. Kata tersebut berasal dari kata nazar, pemenuhan janji.[32]

Tradisi ini intinya adalah mempersembahkan sesajen kepada penguasa laut agar diberi limpahan hasil laut, sekaligus merupakan ritual tolak bala. Kegiatan ini sudah ada sejak pra-Islam. Setelah Islam masuk, ritual sesaji diubah menjadi sedekah dan doa tidak lagi kepada dewa laut, melainkan kepada Allah swt.[33]

  • Upacara Panjang Jimat

Dalam buku Sejarah Cirebon yang ditulis Pangeran Sulaiman Sulendraningrat memaparkan bahwa panjang jimat merupakan upacara tradisi yang dilakukan setiap setahun sekali dan sudah ada sejak zaman kepemimpinan Sunan Gunung Jati. Panjang artinya terus menerus diadakan, yakni satu kali dalam setahun. Jimat maksudnya adalah dipuja-puja dalam memperingati hari lahir Nabi Muhammad saw (maulid Nabi).[34]

Panjang jimat berbentuk sebuah piring besar berbentuk elips atau bundar terbuat dari kuningan atau porselin. Panjang jimat bagi masyarakat Cirebon memiliki makna khusus, yakni salah satu benda pusaka Keraton Cirebon yang merupakan pemberian dari Sang-hyang Bangau ketika masa pengembaraan Raden Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana ketika mencari Agama Islam. Masyarakat Cirebon biasa menyebutnya “iring-iringan Panjang Jimat” (piring panjang jimat di Keraton Kanoman dan pendil jimat di Keraton Kasepuhan).[35]

Upacara Panjang Jimat ini rutin diselenggarakan setiap tanggal 12 Rabiulawal malam, seusai isya.[36] Penurunan Panjang Jimat dilakukan oleh petugas dan ahli agama di lingkungan kerabat Kesultanan Keraton Kasepuhan.[37] Dalam upacara Panjang Jimat ini, ketika Panjang Jimat keluar atau turun, digambarkan sebagai kelahiran seorang bayi, yakni Nabi Muhammad saw dan penggambaran seorang ibu bersalin, walaupun dalam acara tersebut sang bayi dan sang ibu tidak digambarkan secara nyata menggunakan karakter. Begitu pula menurut seorang Lurah Keraton Kasepuhan, bahwa iring-iringan Panjang Jimat tersebut merupakan sebuah sandiwara yang mengandung ajaran pedagogis (seni yang bersifat mendidik), yakni pelajaran yang mengandung cerita kelahiran Nabi Muhammad saw.[38]

  • Sekatenan

Sekatenan merupakan istilah yang sudah populer, terutama di kalangan masyarakat Jawa, termasuk dalam hal ini adalah Cirebon. Sekaten biasa digelar menjelang 12 Rabi’ul Awal dalam rangka menyambut peringatan Maulid Nabi Muhammad saw.[39] Sulendraningrat menyebutkan, istilah sekaten berasal dari kata “sekati” atau “sukahati”, yakni nama dari gamelan sebagai alat dakwah pertama yang dibawa ke Cirebon oleh Ratu Ayu, putri Sunan Gunung Jati, istri Pangeran Sabrang Lor (Sultan Demak II) sebagai kenang-kenangan setelah suaminya wafat.[40]

Sebagian besar orang mengatakan bahwa sekaten berasal dari syahadatain, yakni dua kalimat syahadat. Konon, dahulu ketika orang ingin sekali menonton gamelan, maka oleh para Wali diperkenankan nonton dengan syarat mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tiketnya. Di Jawa dan di Cirebon merupakan salah satu di antara kesuksesan para wali dalam melaksanakan syiar Islam dengan media gamelan tersebut. Oleh karena itu, arti sekaten di sini merupakan data peristiwa kesuksesan para wali salam melaksanakan syiar Islam. Istilah sekaten hingga sekarang masih populer di Cirebon, Demak, Kudus, Yogyakarta, dan Solo.[41]

 

Daftar Pustaka

Buku dan Jurnal

AG, Muhaimin, Islam dalam Bingkai Lokal: Potret dari Cirebon, Ciputat: Logos, 2001.

Atja, Carita Purwaka Caruban Nagari, Karya Sastra sebagai Sumber Pengetahuan Sejarah, Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat, 1986.

Bruinessen, Martin van, Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat, Yogyakarta: Gading, 2012.

Hamdani, Deny, “Cultural System of Cirebonese People: Tradition of Maulidan in the Kanoman Keraton”, Indonesian Journal of Social Sciences,
vol. 4, no. 1.

Irianto, Bambang, Bendera Cirebon (Umbul-Umbul Caruban Nagari): Ajaran Kesempurnaan Hidup, ed. Indra Riawan, cet. I, Jakarta: Museum Tekstil Jakarta, 2012.

Lombard, Denys, Nusa Jawa: Silang Budaya: Kajian Sejarah Terpadu,Bagian II: Jaringan Asia, terj. Winarsih Partaningrat Arifin, dkk, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005.

Mawa, Mahrus El, “Melting Pot Islam Nusantara melalui Tarekat: Studi Kasus Silsilah Tarekat Syattariyah di Cirebon”, Jurnal Islam Indonesia,  Vol. 4, No. 2, 2011.

Munandar, Agus Aris, dkk, Sejarah Kebudayaan Indonesia: Religi dan Falsafahnya, Jakarta: Rajawali Press, 2009.

Raharjo, Untung, Kesusastraan Cirebon: Periodisasi Kuna, Tengahan, Baru, dan Modern, ed. Yohana Indriyani Rahayu, cet. III, Cirebon: Yayasan Pradipta, 2005.

Rais, Mahmud, Sejarah Cirebon, terj. Kamil Kaelani, Cirebon: Mertapada Kulon, t.th.

Subarman, Munir, “Pergumulan Islam dengan Budaya Lokal di Cirebon (Perubahan Sosial Masyarakat dalam Upacara Nadran di Desa Astana, Sirnabaya, Mertasinga, Kecamatan Cirebon Utara)”, Holistik 15, No. 02, 2014.

Sulendraningrat, Pangeran Sulaiman, Sejarah Cirebon, cet. I, Cirebon: PN Balai Pustaka, 1985.

Sunyoto, Agus, Atlas Wali Songo, Cet. IX (Tangerang: Pustaka IIMAN, 2018.

Suseno, Franz Magnis, Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, cet. VII, Jakarta: PT Gramedia, 1999.

Syafahah, Aah, “Peran KH. Anas sebagai Muqoddam Tijaniyah dalam Aspek Politik, Sosio-Ekonomi dan Keagamaan di Pesantren Al-Ishlah Sidamulya Astanjapura Cirebon (1883-1947)”, Holistik 13, No. 2, Desember 2012.

Lain-lain

Fotokopi naskah sanad Tarekat Syattariyah milik KH. Ade Nasihul Umam.

Kamus Besar Bahasa Indonesia, ver. V, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Manuskrip bunga rampai Tarekat Syattariyah milik Raden Raffan Hasyim.

Mumazziq, Rizal, Perempuan Tangguh di Balik Pangeran Diponegoro, dalam NU Online, 27 Juli 2017), dalam http://www.nu.or.id/post/read/79855/ perempuan-tangguh-di-balik-pangeran-diponegoro, diakses pada 13 Februari 2019.


[1] Pangeran Sulaiman Sulendraningrat, Sejarah Cirebon, cet. I, (Cirebon: PN Balai Pustaka, 1985), h. 15.

[2] Sulendraningrat, Sejarah Cirebon, h. 15.

[3] Bambang Irianto, Bendera Cirebon (Umbul-Umbul Caruban Nagari): Ajaran Kesempurnaan Hidup, ed. Indra Riawan, cet. I, (Jakarta: Museum Tekstil Jakarta, 2012), h. 6.

[4] Bambang Irianto, Bendera Cirebon, h. 6. Lihat juga Sulendraningrat, Sejarah Cirebon, h. 18.

[5] Atja, Carita Purwaka Caruban Nagari, Karya Sastra sebagai Sumber Pengetahuan Sejarah, (Proyek Pengembangan Permuseuman Jawa Barat, 1986), h. 32. Hal serupa disebutkan oleh Sulendraningrat dalam Sulendraningrat, Sejarah Cirebon, h. 18. Lihat juga Bambang Irianto, Bendera Cirebon, h. 6.

[6] Asal usul penamaan Cai (dalam Bahasa Sunda, artinya air) Rebon (udang yang kecil-kecil) atau Cirebon ini dapat dibaca lengkap dalam Mahmud Rais, Sejarah Cirebon, terj. Kamil Kaelani, (Cirebon: Mertapada Kulon, t.th.), h. 91-98.

[7] Bambang Irianto, Bendera Cirebon, h. 7.

[8] Sulendraningrat, Sejarah Cirebon, h. 18-19.

[9] Untung Raharjo, Kesusastraan Cirebon: Periodisasi Kuna, Tengahan, Baru, dan Modern, ed. Yohana Indriyani Rahayu, cet. III, (Cirebon: Yayasan Pradipta, 2005), h. 1-2. Mengenai budaya pesisir atau orang laut, lihat juga Denys Lombard, Nusa Jawa: Silang Budaya: Kajian Sejarah Terpadu,Bagian II: Jaringan Asia, terj. Winarsih Partaningrat Arifin, dkk, (Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2005),h. 87.

[10] Untung Raharjo, Kesusastraan Cirebon, h. 2.

[11] Untung Raharjo, Kesusastraan Cirebon, h. 2.

[12] Untung Raharjo, Kesusastraan Cirebon, h. 4-6.

[13] Untung Raharjo, Kesusastraan Cirebon, h. 6-7.

[14] Agus Aris Munandar, dkk, Sejarah Kebudayaan Indonesia: Religi dan Falsafahnya, (Jakarta: Rajawali Press, 2009), h. 66.

[15] Franz Magnis Suseno, Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, cet. VII, (Jakarta: PT Gramedia, 1999), h.31.

[16] Sulendraningrat, Sejarah Cirebon, h. 19.

[17] Sulendraningrat, Sejarah Cirebon, h. 20.

[18] Sulendraningrat, Sejarah Cirebon, h. 20.

[19] Bambang Irianto, Bendera Cirebon, h. 3. Lihat juga Sulendraningrat, Sejarah Cirebon, h. 21.

[20] Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo, Cet. IX (Tangerang: Pustaka IIMAN, 2018), h. 280.

[21] Agus Sunyoto, Atlas Wali Songo, h. 299-301.

[22] Mahrus El Mawa, “Melting Pot Islam Nusantara melalui Tarekat: Studi Kasus Silsilah Tarekat Syattariyah di Cirebon”, Jurnal Islam Indonesia,  Vol. 4, No. 2, 2011, h. 2.

[23] Martin van Bruinessen, Kitab Kuning, Pesantren, dan Tarekat, (Yogyakarta: Gading, 2012), h. 281.

[24] Muhaimin AG, Islam dalam Bingkai Lokal: Potret dari Cirebon, (Ciputat: Logos, 2001), h. 341.

[25] Manuskrip bunga rampai Tarekat Syattariyah milik Raden Raffan Hasyim.

[26] Fotokopi naskah sanad Tarekat Syattariyah milik KH. Ade Nasihul Umam.

[27] Rizal Mumazziq, Perempuan Tangguh di Balik Pangeran Diponegoro, dalam NU Online, 27 Juli 2017), http://www.nu.or.id/post/read/79855/perempuan-tangguh-di-balik-pangeran-diponegoro, diakses pada 13 Februari 2019.

[28] Martin van Bruinessen, h. 242.

[29]Martin van Bruinessen, h. 440.

[30]Martin van Bruinessen, h. 441.

[31] Aah Syafahah, “Peran KH. Anas sebagai Muqoddam Tijaniyah dalam Aspek Politik, Sosio-Ekonomi dan Keagamaan di Pesantren Al-Ishlah Sidamulya Astanjapura Cirebon (1883-1947)”, Holistik 13, No. 2, Desember 2012, h. 93-94.

[32] Munir Subarman, “Pergumulan Islam dengan Budaya Lokal di Cirebon (Perubahan Sosial Masyarakat dalam Upacara Nadran di Desa Astana, Sirnabaya, Mertasinga, Kecamatan Cirebon Utara)”, Holistik 15, No. 02, 2014, h. 330.

[33]Munir Subarman, “Pergumulan Islam dengan Budaya Lokal”, h. 331.

[34] Sulendraningrat, Sejarah Cirebon, h. 84.

[35] Kisah pengembaraan Pangeran Walangsungsang dan pertemuannya dengan Ratu Bangau di Gunung Cangak (Mundu, Cirebon) dapat dibaca lengkap dalam Mahmud Rais, Sejarah Cirebon, h. 42-45.

[36] Rabiulawal merupakan bulan ketiga tahun Hijriah (30 hari); bulan Maulid. Lihat Kamus Besar Bahasa Indonesia, ver. V, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

[37] Sulendraningrat, Sejarah Cirebon, h. 86.

[38] Sulendraningrat, Sejarah Cirebon, h. 84. Mengenai tata cara pelaksanaan upacara Panjang Jimat ini telah dipaparkan secara detail dalam sebuah jurnal. Lihat Deny Hamdani, “Cultural System of Cirebonese People: Tradition of Maulidan in the Kanoman Keraton”, Indonesian Journal of Social Sciences, vol. 4, no. 1, h. 5-7.

[39] Sulendraningrat, Sejarah Cirebon, h. 84.

[40] Sulendraningrat, Sejarah Cirebon, h. 86.

[41] Sulendraningrat, Sejarah Cirebon, h. 86.Lihat juga Deny Hamdani, “Cultural System of Cirebonese”, h. 9-11.

Top